Home »
» BANGSA KEHILANGAN RASA MALU
Posted by Unknown
Posted on 3:32:00 AM
with No comments
Ibarat mobil remnya sudah blong. Tak ada lagi cara menghentikan laju
mobil. Sedangkan sopirnya terus menekan pedal gas. Kecang. Tidak peduli
mobil menabrak apa saja dan siapa saja didepannya. Menghancurkan apa
saja. Sopir terus menginjak pedal gas, sampai mobil hancur lebur
berkeping, dan sopirnya mati. Baru berhenti.
Itulah kehidupan bangsa
Indonesia dewasa ini. Terus melaju tanpa batas. Terus berlari kecang,
tanpa kendali. Melesat bagai meteor. Karena tidak ada lagi rasa "khauf"
(takut). Rasa takut sudah pupus. Diganti dengan keinginan dan ambisi
terhadap kenikmatan duniawi. Bangsa hedonis.
Keserakahan,
ketakamakan, kemasiatan, kesesatan, kedurhakaan, dan segala penyimpangan
menjadi "aqidah" mereka. Tidak ada lagi aturan hidup yang menjadi
pegangan. Agama (Islam) yang mereka anut, sudah mereka tinggalkan.
Padahal, sekarang di seluruh daratan Eropa, perayaan Natal dan Tahun
Baru, di tengah lelehan salju Desember yang beku, kehidupan mereka
sangat buram. Satu-satunya negara yang rakyatnya masih mampu berbelanja
dan merayakan Natal dan Tahun Baru, hanyalah Jerman.
Selebihnya, negara-negara di zona Eropa, rakyatnya hanya duduk di depan
tungku pemanas di rumahnya. Sambil merenungi kehidupan mereka yang
bangkrut. Mereka yang menjadikan "Tuhannya" kenikmatan dunia sudah
berakhir.
Negara yang paling tua lahirnya imperialisme dan
kapitalisme yaitu Portugal dan Spanyol, serta tempat lahirnya
kapitalisme (demokrasi) paling tua, Yunani, sudah jatuh tersungkur,
masuk ke jurang kemiskinan, tidak akan bangkit selamanya. Negara-negara
sekuler yang menuhankan kenikmatan materi dan duniawi itu, sekarang
hanya dapat merenungi nasibnya. Separuh rakyatnya menganggur, dan
kehilangan pekerjaan, akibat krisis utang dan ekonomi. Bukan hanya itu.
Uni Eropa terancam bubar.
Mata uang uero sudah tidak lagi
layak menjadi alat tukar. Negara-negara zone euro ingin kembali ke mata
uang mereka masing-masing. Ini semua menjadi indikator tempat lahirnya
bagi para pemuja syahwat dan kenikmatan sudah tamat. Kanselir Jerman,
Angela Merkel, sudah tidak mungkin mau melakukan "bail out" bagi
negara-negara Eropa yang sudah miskin. Angela Merkel yang berjanji mau
menggelontorkan dananya sebesar 400 miliar euro, akhirnya meninggalkan
janjinya itu, karena Merkel harus berhadapan dengan rakyatnya.
Bandingkan. Indonesia yang "income" perkapita rakyatnya masih dibawah $
1000 dollar, saat merayakan Natal dan Tahun Baru, melebihi
negara-negara yang maju, yang "income" perkapitanya sudah lebih $ 10.000
dolar.
Pesta kembang api membahana diangkasa menyambut tahun
baru Masehi. Di kampung yang miskin di pinggiran Jakarta, rakyat yang
membakar petasan tak henti-henti. Memekakkan telinga. Hiburan yang
disuguhkan menyambut tahun baru, sangat luar biasa, dari pusat ibukota
sampai kampung-kampung di Padeglang, yang dekat dengan gunungpun
menyambut tahun baru. Dari pesta yang diiringi orkes dangdut dengan
penyanyi mesum, sampai hotel-hotel yang mewah, tempat peristirahatan
semuanya menyambut tahun baru Masehi.
Tentu yang mengherankan
dari mana uang yang mereka dapatkan itu? Begitu banyak orang yang dengan
"enteng" membuang uang mereka, hanya sekadar merayakan Natal dan Tahun
Baru. Apakah mereka yang merayakan Tahun Baru, itu adalah para pekerja
keras yang sukses, dan orang-orang yang benar-benar berduit? Inilah
pertanyaan kunci. Untuk melihat kehidupan bangsa ini secara anatomis?
Sebenarnya, ekonomi Indonesia tumbuh diatas 6,5 persen, hanya faktor
konsumsi di dalam negeri. Bukan karena meningkatnya eksport dan
perdagangan luar negeri. Artinya, setiap bulan puluhan ribu mobil yang
terjual, setiap bulan ratusan ribu motor yang terjual, setiap bulan
ratusan rumah estate yang terjual, semuanya dengan kredit.
Hotel-hotel terus tumbuh pesat dengan tingkat hunian yang tinggi,
resort-resort tempat istirahat orang kaya terus dibangun, ritel dari
manca negara terus merambah sampai ke kampung-kampung, yang
menghancurkan pedagang kecil, dan pembelinya terus meningkat.
Barang kebutuhan sekunder terus membanjiri pasar, dan tidak sepi
pembeli. Karena itu, kemudian pihak asing, meningkatkan status "grate
investment" bagi Indonesia. Artinya, negara yang tetap aman menaruh
kapital dan modal. Indonesia dianggap aman membayar utang.
Tetapi, jangan lupa bahwa negeri ini, negeri yang bangsanya sudah
kehilangan rasa malu. Negeri yang yang pemimpin dan rakyatnya urat
malunya putus.
Lihat, negeri ini yang menganut sistem ideologi
Pancasila, korupsi sudah menjadi "habit" para penyelenggara negara dan
pejabat publik. Korupsi seperti sudah seperti penyakit yang tidak
mungkin lagi dapat diberantas. Ibaratnya seperti penyakit kanker stadium
empat, yang menyerang otak manusia. Kemaksiatan dan dosa sudah menjadi
"hobi" di negeri ini.
Bandingkan dengan Cina yang atheis,
koruptor dihukum mati. Sedangkan di Indonesia para koruptor mendapatkan
remisi (potongan hukuman). Vonis hukumannyapun ringan, dan masih diberi
remisi. Karena itu, Indonesia menjadi surga para koruptor. Di Malaysia
"ruswah" (sogok'/suap), tidak begitu nampak. Di Indonesia. Segala
urusan harus menggunakan "ruswah". Mengurus orang matipun di Indonesia
masih harus menggunakan "ruswah".
Mengapa seluruh asset bangsa
ini sekarang dikuasai Cina? Karena pejabat Indonesia sudah dapat ditakar
oleh orang Cina, berapa "ruswah" yang harus dibayar kepada mereka untuk
izin dan proyek? Di Malaysia sekecil apapun membawa barang "haram"
narkotik, digantug, tanpa basa-basi. Terhadap siapapun. Di Indonesia
yang mempunyai pabrik narkoba yang memproduksi berton-ton narkotik, bisa
bebas dan mennjalakan lagi bisnisnya. Barang buktinya bisa dijual.
Bandingkan, di Indonesia, banyak anak tidak dapat melanjutkan
pendidikan mereka ke sekolah lebih tinggi, karena mereka tidak dapat
membayar uang sekolah/kuliah.
Di Cina, sejak zamannya Deng Xiao
Ping, setiap tahunnya 100.000 mahasiswa di kirim sekolah ke Eropa dan
Amerika. Malaysia setiap tahunnya 50.000 mahasiswa di kirim ke Eropa,
Amerika, Jepang, dan Timur Tengah.
Sehingga, sekarang Cina dan
Malaysia menjadi negara maju, dan sudah banyak orang yang bergelar
doktor. Sedangkan di Indonesia, uang negara (RABN), banyak habis
digunakan untuk plesiran pejabat dan anggota DPR, yang melakukan "Studi
banding", yang tidak jelas hasilnya.
Perhatikan, negara agraris
yang luas wilayahnya, melebihi daratan Eropa, seluruh kebutuhan pangan
dan buah-buahan harus diimport. Mengapa? Karena import itu, dapat
menambahkan tebalnya kantong, bagi para pejabat, dan kroni-kroninya,
terutama pengusahanya. Padahal, Kementerian Pertanian itu, dua periode
dipimpin seorang menteri dari partai dakwah, yang konon mempunyai
keberpihakan kepada rakyat. Petani semakin jembel dan marginal.
Menyedihkan.
Di kementerian kehakiman hukum dan hak-hak asasi
menusia, pelanggaran terhadap HAM, terus berlangsung. Orang yang
dibunuh polisi semakin banyak. Termasuk mereka yang dituduh teroris.
Tempat rehabilitasi dan tahanan seperti penjara, justeru menjadi pusat
peredaran narkoba. Dari dulu sampai sekerang. Kementerian Tenaga Kerja,
setiap hari hanya menerima kasus-kasus pemerkosaan tkw yang terlantar di
luar negeri. Masih banyak lagi kasusnya. Tetapi, melihat semua itu
pejabat tidak ada rasa malunya.
Malu sama dengan "haya" yang
berasal dari kata "hayatun" yang berarti kehidupan. Ibnu Qayyim,
mengatakan, "Orang yang sudah tidak memiliki rasa malu, bararti orang
itu sudah mati". Perbuatan dosa dan maksiat itu, menghilangan rasa malu.
Bukan hanya menghilangkan rasa malunya kepada sesama manusia, tetapi
juga rasa malunya terhadap Allah Azza Wa Jalla.
Di seluruh
Indonesia, jutaan orang keluar rumah sejak sebelum Ashar, hingga dini
hiri, tanpa melaksanakan shalat, menyambut tahun baru Masehi. Masjid
kosong melompong. Shalat Subuh jamaahnya tinggal beberapa gelintir.
Menyambut tahun baru Masehi, berbanding lurus dengan melakukan
kemaksiatan terhadap Allah Rabbu Alamin secara kolektif.
Seorang Ketua MUI Jawa Timur, mengatakan, bahwa di Pantai Kejeran,
Surabaya, berserakan "kondom", usai perayaan Tahun Baru. Entah di
Jakarta.
Bangsa Indonesia, para pemimpinnya dari atas sampai bawah,
sudah kehilangan rasa malu. Tidak malu berbuat salah dan dosa terhadap
manusia dan Allah Rabbul Alamin. Rakyatnya ikut pula terjerumus ke dalam
kehidupan materialisme yang memperbudak mereka. Semuanya membuat
hilangnya rasa malu.
Manusia yang sudah tidak mempunyai rasa
malu akan menjadi sampah kehidupan. Tidak ada gunanya. Mereka akan
berbuat apa saja, sesuai dengan kemauannya, yang didorong naluri
syahwatnya. Wallahu'alam.
Written by : Your Name - Describe about you

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam id libero non erat fermentum varius eget at elit. Suspendisse vel mattis diam. Ut sed dui in lectus hendrerit interdum nec ac neque. Praesent a metus eget augue lacinia accumsan ullamcorper sit amet tellus.
Join Me On: Facebook | Twitter | Google Plus
:: Thank you for visiting ! ::
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Comentnya!!!